Udara dingin dan hamparan salju tebal di Prefektur Niigata, Jepang, kini menjadi pemandangan sehari-hari bagi Nhurshaq Syahwanda. Jauh dari hangatnya mentari Bulukumba, srikandi lulusan SMKS Teknologi Informatika (SMK TI) Bulukumba ini tengah mengukir jejak suksesnya di Negeri Sakura.
Hampir dua tahun lamanya, perempuan yang akrab disapa Syahwa ini bekerja di sektor food manufacturing, berfokus pada produksi makanan siap saji seperti onigiri dan sushi yang didistribusikan ke berbagai jaringan supermarket di Jepang. Bekerja di negara dengan etos kerja dan standar kedisiplinan tertinggi di dunia tentu bukan hal yang mudah, terlebih bagi seorang perantau muda. Namun, Syahwa membuktikan bahwa lulusan SMK TI Bulukumba memiliki mental baja yang mampu bersaing di kancah global.
Keseimbangan Hidup dan Kedewasaan Bersikap
Kerja keras Syahwa di Jepang berbuah manis. Di usianya yang masih terbilang muda, ia berhasil mengantongi penghasilan menembus angka dua digit setiap bulannya. Meski memiliki peluang untuk melipatgandakan pundi-pundi rupiah melalui jam lembur, Syahwa menunjukkan kedewasaan luar biasa dalam memaknai kesuksesan.
Baginya, uang bukanlah segalanya. "Saya jarang ambil lembur, karena capek dan saya masih harus belajar. Jadi, saya bagi waktu; setengah hari untuk kerja, setengah harinya lagi untuk berkomunikasi dengan orang tua dan belajar," ungkapnya bijak. Sebuah keputusan yang menunjukkan betapa ia sangat menjaga keseimbangan antara karier, pendidikan, dan bakti kepada keluarga.
Kesuksesan yang direngkuh Syahwa hari ini tidak jatuh dari langit. Di balik senyumnya saat berfoto di tengah salju Niigata, terdapat perjuangan "berdarah-darah" yang jarang diketahui orang. Keputusannya untuk merantau ke Jepang sempat diwarnai keraguan dari lingkungan sekitar, terutama karena ia adalah seorang perempuan yang harus pergi jauh dari keluarga. Alih-alih mundur, keraguan itu justru diubahnya menjadi bahan bakar pembuktian.
Persiapannya menuju Jepang adalah ujian ketahanan fisik dan mental. Syahwa harus membagi waktu antara jadwal kuliah yang padat dan kelas intensif Bahasa Jepang. Setiap Senin hingga Jumat, dari pukul 07.00 pagi hingga 17.00 sore, waktunya habis untuk belajar bahasa, dilanjutkan dengan tugas-tugas yang menumpuk hingga tengah malam.
"Bahkan waktu tidur saya saat itu terkadang hanya sekitar 3–5 jam sehari. Beberapa kali kondisi badan saya drop karena terlalu memaksakan diri. Tapi saat itu saya selalu mengingat tujuan saya. Saya berpikir, kalau saya ingin mendapatkan sesuatu yang besar, saya juga harus berani memberikan usaha yang besar," kenang Syahwa.
Adaptasi di Jepang pun tak kalah menantang. Menghadapi cuaca ekstrem musim dingin untuk pertama kalinya, menembus jalanan bersalju tebal menuju tempat kerja, hingga kendala komunikasi di awal masa kerjanya. Sempat dihantui rasa takut karena keterbatasan bahasa, Syahwa memilih untuk mengesampingkan rasa gengsi, memberanikan diri untuk terus bertanya, dan belajar dari kesalahan.
Pesan Epik untuk Adik-Adik Kelas
Mental tangguh dan tak mudah menyerah ini tak lepas dari fondasi yang ia bangun sejak berseragam putih abu-abu. Terbiasa menghadapi berbagai tantangan selama belajar di SMK TI Bulukumba membuatnya memiliki daya juang ekstra.
Kini, dari Jepang, Syahwa menitipkan pesan penuh makna bagi adik-adik kelasnya yang masih menimba ilmu di SMK TI Bulukumba. Ia mengingatkan agar setiap siswa tidak takut bermimpi besar dan tidak membandingkan garis waktu kesuksesan diri sendiri dengan orang lain.
"Jangan pernah lupa orang tua. Apa pun yang kita capai nanti, selalu ingat bahwa ada doa dan perjuangan orang tua di belakang kita," pesannya dengan haru.
Menutup kisahnya, Syahwa membagikan dua pepatah Jepang yang selama ini menjadi pegangannya dalam melewati setiap rintangan:
「七転び八起き」(Nanakorobi Yaoki) "Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali."
「夢は逃げない、逃げるのはいつも自分だ。」(Yume wa nigenai, nigeru no wa itsumo jibun da) "Mimpi tidak akan pernah lari, yang selalu lari adalah diri kita sendiri."
Kisah Nurshaq Syahwanda adalah bukti nyata. Dengan tekad yang kuat, doa orang tua, dan kerja keras yang tak kenal lelah, mimpi sebesar apa pun bahkan yang membentang hingga ke Jepang bisa digenggam di tangan. Ganbatte, SMK TI Bulukumba!


